Mentari
terbit selalu dari timur, kenapa? Dan terbenam ke barat, kenapa?
Pernahkah
kita menyadari bahwa semua itu hanyalah Kuasa Sang Pencipta. Sedangkan kita
hanya berkuasa atas waktu, 12 jam untuk kita beraktifitas 12 jam kemudian untuk
refleksi dan istirahat.
Sejak masa-masa sekolah saya menjalani hari-hari
dengan rasa cuek terhadap masa depan, hanya bersikap seakan-akan semuanya yang
kubutuhkan sudah ada dari orangtua. Hidup tanpa rasa ragu, membuatku lupa bahwa
saya hanya seorang anak remaja, yang sudah seharusnya memiliki jawaban jikalau
diperhadapkan dengan cita-cita. Waktu demi waktu berlalu dan tak memberi
perubahan sedikitpun sampai pada akhirnya saya berkuliah di universitas negeri
medan jurusan pendidikan bahasa jerman angkatan 2007. Tatkala pada saat itu,
saya bukanlah seorang Maha dari siswa, melainkan seorang dengan paradigma SMA
dengan jenjang naik tingkat 1 (SMA kelas 4). Perilaku tidak berubah layaknya
masa puberitas tingkat keremajaan memuncak. Hidup bagaikan kertas buram, bolos
kuliah, rajin terlambat dan sebagainya.
Menyadari kekurangan orang lain lebih mudah
daripada menyadari kekurangan diri sendiri, hal ini sering kali tanpa disadari
melekat pada kita. Saya akhirnya menyadari kekurangan demi kekurangan setelah
nasihat dari sosok seorang ibu. Ibuku yang mengajari tahap demi tahap menjadi sosok
yang menyenangkan, tegas dan peduli. Beliau adalah guru di SMA Negeri 3 Medan
sebagai guru bahasa jerman. Saya sebagai anak diajari bagaimana menjadi guru,
disaat itulah saya menyadari bahwa pembentukan karakter sudah kualami secara perlahan-lahan.
Ibuku T.M.Napitupulu adalah 1 dari guru yang menulis buku pelajaran bahasa
jerman. Sampai akhirnya ibuku memintaku untuk mengetik buku dan Kamus bahasa
jerman untuk pemula, yang mana lebih mudah dipahami bagi murid-murid. Setengah perjalanan
ketikan kamus, ibuku divonis sakit kanker stadium akhir. Saya kerap menjadi
guru pengganti mengajar murid di kelas. Buku dan kamus tidak dapat diselesaikan,
sebab ibuku harus dirawat, di kemo dan bahkan menjalani 45 kali sinar radiasi. Dan
akhirnya dokter vonis tidak dapat bertahan 6 bulan. Begitu lirih mendengar itu
seakan dokter itu bukan dokter. Meski
tak kunjung sembuh, dia tak pernah menyerah pada penyakit dan beraktifitas
seperti biasanya, mengajar dan sebagainya. Sepertinya Tuhan tidak sependapat
dengan dokter, Dia memberi kami kesempatan dan tambahan waktu 6 bulan lagi dari
waktu yang telah di vonis dokter untuk memanfaatkan waktu bersama. Sampai akhirnya
ibuku telah pergi meninggalkan dunia tepat pukul 20.40 WIB 13 Juli 2010. Semangatku
kuliah menurun, bahkan merasuki fikiranku untuk tidak PPLT (Program
Pengalaman Lapangan Terpadu). Keluarga, saudara dan sahabat memberi semangat
untuk terus lanjut kuliah. Proses PPLT memberiku banyak pelajaran dan mimpi,
bahwa hal ini yang di inginkan ibuku, menjadi penerusnya mencerdaskan generasi
berikutnya dengan bahasa jerman. Setelah PPLT berakhir, saya membuat les privat
bahasa jerman, hanya dalam hitungan waktu mimpiku buyar. Jelang beberapa waktu,
saya mengajak teman 1 kelasku untuk membuka les privat, kami menamainya “Adler
Kurs”. Publikasi demi publikasi dilakukan, mungkin Tuhan belum berkehendak, hal
ini juga tidak berjalan sesuai rencana. Kami berlima hanyalah mahasiswa, terus
berupaya membangun kesempatan peluang kerja, bahkan kami memiliki partner kak Hilde-Germanclub untuk
program Au-pair ke jerman tapi juga belum membuahkan hasil, semua karena kami
tidak memiliki dana untuk publikasi penuh perihal privat Kurs. Akhirnya semua
kembali menjalani aktifitas masing-masing. Selang beberapa minggu saya melihat beberapa tampilan beasiswa ke luar negeri, saya sangat tertarik untuk melanjutkan beasiswa S-2 di Jerman, hanya saja persyaratan kuliah disana cukup memberatkan saya dengan uang kuliahnya dan minimal saldo tabungan selama 3 bulan 100+ jt. Saya akhirnya mencoba untuk
memanagemen shop online, awalnya sedikit ragu dengan hal itu, temanku Henny
selalu mendukungku, mengajari dan membimbing bagaimana menghadapi orang yang
berniat membeli barang. Hal ini diawali dengan sikap keraguan, sampai pada
akhirnya semua tampak mudah. Pesanan demi pesanan. Meski keuntungan tidak
seberapa saya tidak berkecil hati, sebab modal juga belum seberapa. Saat semua
upaya dievaluasi, terbesit ide untuk mengaplikasikan pendidikan bahasa asing
dapat memberi dampak berarti bagi negara. Saya ingin membentuk dan mendirikan Sekolah Bahasa “Napitupulu” (boru ibu saya ,suku batak toba) yang dimana
disekolah itu hanya IPB (ilmu pengetahuan bahasa) walau kecil dengan sedikit
kelas dan murid jika dilakukan dengan kasih yang besar dapat menjangkau dunia. Menikah dan mempunyai anak-anak yang akan saya didik mengenal dan belajar bahasa asing.
12 jam
sudah cukup untuk berusaha keras dan 12 jam lainnya cukup untuk bermimpi dan
berkhayal. Hal inilah yang menjadi pembakar semangatku ditiap kumencoba untuk
belajar membangun jatidiri dan memanfaatkan kesempatan yang ada.
Satu demi satu rencana, mimpi dan hayalan berlalu,
lebih dari 1 rintangan dan tantangan ditiap perencanaan untuk direalisasikan. Kadang
ada rasa putus asa, kadang ada saat semangat membara, seakan semuanya seperti
alat ukur tensi, naik dan turun sesuai dengan situasi. Rencanaku sampai saat ini saya tetap mengupayakan bahwa mimpiku “Adler Kurs”, “hansshop online” harus diupayakan, sampai kata menyerah keluar dari mulutku. Sembari
membentuk karakter lebih baik lagi dan mencari sedikit demi sedikit penghasilan
untuk kuliah S-2 dan membentuk mimpi terakhirku mendirikan Sekolah Bahasa dan mengenalkan bahwa saya
memiliki Mentor terbaik dikeluarga dan masa depanku bahkan anak-anakku kelak.
Mungkinkah mimpi dan rencanaku menjadi kenyataan...?
Blog saya lainnya: Makalah tugas perkuliahan
Kisah ku ini adalah fakta yang terjadi dan kualami bahkan masih proses sampai hari ini, saya share di "Berbagi Cerita bersama BCA"
Kisah ku ini adalah fakta yang terjadi dan kualami bahkan masih proses sampai hari ini, saya share di "Berbagi Cerita bersama BCA"