Minggu, 10 Juni 2012

Perencanaan Pendidikan, dedikasi bagi ibu, saya dan anakku...

Mentari terbit selalu dari timur, kenapa? Dan terbenam ke barat, kenapa?
Pernahkah kita menyadari bahwa semua itu hanyalah Kuasa Sang Pencipta. Sedangkan kita hanya berkuasa atas waktu, 12 jam untuk kita beraktifitas 12 jam kemudian untuk refleksi dan istirahat. 

Sejak masa-masa sekolah saya menjalani hari-hari dengan rasa cuek terhadap masa depan, hanya bersikap seakan-akan semuanya yang kubutuhkan sudah ada dari orangtua. Hidup tanpa rasa ragu, membuatku lupa bahwa saya hanya seorang anak remaja, yang sudah seharusnya memiliki jawaban jikalau diperhadapkan dengan cita-cita. Waktu demi waktu berlalu dan tak memberi perubahan sedikitpun sampai pada akhirnya saya berkuliah di universitas negeri medan jurusan pendidikan bahasa jerman angkatan 2007. Tatkala pada saat itu, saya bukanlah seorang Maha dari siswa, melainkan seorang dengan paradigma SMA dengan jenjang naik tingkat 1 (SMA kelas 4). Perilaku tidak berubah layaknya masa puberitas tingkat keremajaan memuncak. Hidup bagaikan kertas buram, bolos kuliah, rajin terlambat dan sebagainya.
Menyadari kekurangan orang lain lebih mudah daripada menyadari kekurangan diri sendiri, hal ini sering kali tanpa disadari melekat pada kita. Saya akhirnya menyadari kekurangan demi kekurangan setelah nasihat dari sosok seorang ibu. Ibuku yang mengajari tahap demi tahap menjadi sosok yang menyenangkan, tegas dan peduli. Beliau adalah guru di SMA Negeri 3 Medan sebagai guru bahasa jerman. Saya sebagai anak diajari bagaimana menjadi guru, disaat itulah saya menyadari bahwa pembentukan karakter sudah kualami secara perlahan-lahan. Ibuku T.M.Napitupulu adalah 1 dari guru yang menulis buku pelajaran bahasa jerman. Sampai akhirnya ibuku memintaku untuk mengetik buku dan Kamus bahasa jerman untuk pemula, yang mana lebih mudah dipahami bagi murid-murid. Setengah perjalanan ketikan kamus, ibuku divonis sakit kanker stadium akhir. Saya kerap menjadi guru pengganti mengajar murid di kelas. Buku dan kamus tidak dapat diselesaikan, sebab ibuku harus dirawat, di kemo dan bahkan menjalani 45 kali sinar radiasi. Dan akhirnya dokter vonis tidak dapat bertahan 6 bulan. Begitu lirih mendengar itu seakan dokter itu bukan dokter. Meski tak kunjung sembuh, dia tak pernah menyerah pada penyakit dan beraktifitas seperti biasanya, mengajar dan sebagainya. Sepertinya Tuhan tidak sependapat dengan dokter, Dia memberi kami kesempatan dan tambahan waktu 6 bulan lagi dari waktu yang telah di vonis dokter untuk memanfaatkan waktu bersama. Sampai akhirnya ibuku telah pergi meninggalkan dunia tepat pukul 20.40 WIB 13 Juli 2010. Semangatku kuliah menurun, bahkan merasuki fikiranku untuk tidak PPLT (Program Pengalaman Lapangan Terpadu). Keluarga, saudara dan sahabat memberi semangat untuk terus lanjut kuliah. Proses PPLT memberiku banyak pelajaran dan mimpi, bahwa hal ini yang di inginkan ibuku, menjadi penerusnya mencerdaskan generasi berikutnya dengan bahasa jerman. Setelah PPLT berakhir, saya membuat les privat bahasa jerman, hanya dalam hitungan waktu mimpiku buyar. Jelang beberapa waktu, saya mengajak teman 1 kelasku untuk membuka les privat, kami menamainya “Adler Kurs”. Publikasi demi publikasi dilakukan, mungkin Tuhan belum berkehendak, hal ini juga tidak berjalan sesuai rencana. Kami berlima hanyalah mahasiswa, terus berupaya membangun kesempatan peluang kerja, bahkan kami memiliki partner kak Hilde-Germanclub untuk program Au-pair ke jerman tapi juga belum membuahkan hasil, semua karena kami tidak memiliki dana untuk publikasi penuh perihal privat Kurs. Akhirnya semua kembali menjalani aktifitas masing-masing. Selang beberapa minggu saya melihat beberapa tampilan beasiswa ke luar negeri, saya sangat tertarik untuk melanjutkan beasiswa S-2 di Jerman, hanya saja persyaratan kuliah disana cukup memberatkan saya dengan uang kuliahnya dan minimal saldo tabungan selama 3 bulan 100+ jt. Saya akhirnya mencoba untuk memanagemen shop online, awalnya sedikit ragu dengan hal itu, temanku Henny selalu mendukungku, mengajari dan membimbing bagaimana menghadapi orang yang berniat membeli barang. Hal ini diawali dengan sikap keraguan, sampai pada akhirnya semua tampak mudah. Pesanan demi pesanan. Meski keuntungan tidak seberapa saya tidak berkecil hati, sebab modal juga belum seberapa. Saat semua upaya dievaluasi, terbesit ide untuk mengaplikasikan pendidikan bahasa asing dapat memberi dampak berarti bagi negara. Saya ingin membentuk dan mendirikan Sekolah Bahasa “Napitupulu” (boru ibu saya ,suku batak toba) yang dimana disekolah itu hanya IPB (ilmu pengetahuan bahasa) walau kecil dengan sedikit kelas dan murid jika dilakukan dengan kasih yang besar dapat menjangkau dunia. Menikah dan mempunyai anak-anak yang akan saya didik mengenal dan belajar bahasa asing.

12 jam sudah cukup untuk berusaha keras dan 12 jam lainnya cukup untuk bermimpi dan berkhayal. Hal inilah yang menjadi pembakar semangatku ditiap kumencoba untuk belajar membangun jatidiri dan memanfaatkan kesempatan yang ada. 

Satu demi satu rencana, mimpi dan hayalan berlalu, lebih dari 1 rintangan dan tantangan ditiap perencanaan untuk direalisasikan. Kadang ada rasa putus asa, kadang ada saat semangat membara, seakan semuanya seperti alat ukur tensi, naik dan turun sesuai dengan situasi. Rencanaku sampai saat ini saya tetap mengupayakan bahwa mimpiku “Adler Kurs”, “hansshop online” harus diupayakan, sampai kata menyerah keluar dari mulutku. Sembari membentuk karakter lebih baik lagi dan mencari sedikit demi sedikit penghasilan untuk kuliah S-2 dan membentuk mimpi terakhirku mendirikan Sekolah Bahasa  dan mengenalkan bahwa saya memiliki Mentor terbaik dikeluarga dan masa depanku bahkan anak-anakku kelak.

Mungkinkah mimpi dan rencanaku menjadi kenyataan...? 
Blog saya lainnya: Makalah tugas perkuliahan


Kisah ku ini adalah fakta yang terjadi dan kualami bahkan masih proses sampai hari ini, saya share di "Berbagi Cerita bersama BCA"